Rational Expectation
Rational Expectation Hypothesis
adalah salah satu cara pendekatan ekonomi yang merupakan bentuk baru dari
pemikiran ekonomi klasik, pendekatan ini terbentuk karena aliran sebelumnya
tidak dapat menjelaskan kondisi makro ekonomi yang ada pada tahun 1960an –
1970an yang mana maksudnya yaitu aliran monetaris dan aliran keynes, aliran ini
meninjau ulang aliran – aliran keynesian. Di mana pendekatan Rational
Expectation orang memiliki harapan rasional tentang variabel ekonomi.
Implikasinya adalah bahwa orang memanfaatkan informasi yang tersedia secara
cerdas dalam variabel perkiraan yang memengaruhi keputusan ekonomi mereka, yang
mana maksudnya yaitu orang akan memikirkan secara rasional gerakan yang akan di
lakukannya dalam gerakan ekonomi.
Ini
menyiratkan bahwa orang memahami bagaimana ekonomi bekerja dan bagaimana
kebijakan pemerintah mengubah variabel ekonomi makro seperti tingkat harga,
tingkat pekerjaan dan output agregat. Dan karena harapan yang rasional,
pemerintah tidak dapat membodohi rakyat dengan kebijakan ekonomi yang
sistematis. Dan sepenuhnya di atur oleh pemerintah berdasarkan pada pemikiran
keynesian.
Tokoh – Tokoh
·
John F. Muth
Pemikiran John F. Muth menyatakan
bahwa terdapat dua kesimpulan utama dari studi data ekspektasi, adalah sebagai
berikut:
1. Rata-rata ekspektasi dalam suatu industri lebih akurat
daripada model naif dan seakurat sistem persamaan yang rumit, meskipun ada
perbedaan pendapat lintas-bagian yang cukup besar.
2. Harapan yang dilaporkan umumnya meremehkan tingkat
perubahan yang sebenarnya terjadi.
John F.Muth hanya menjelaskan mengenai dasar – dasar metode
dari Rational Expectations namun belum menjelaskan mengenai cara menerapkan
Rational Expectations di dalam Makro Ekonomi secara keseluruhan.
·
Robert E. Lucas Jr.
Lucas dalam Lucas Critique
menjelaskan bahwa berbagai persamaan empiris yang diperkirakan dalam model
tersebut berasal dari periode di mana orang memiliki harapan khusus tentang
kebijakan pemerintah. Begitu harapan itu berubah, seperti yang dikatakan teori
Rational Expectationnya, maka persamaan empiris akan berubah, membuat model
tidak berguna untuk memprediksi hasil kebijakan fiskal dan moneter yang
berbeda.
Jika model ekonometrik
menunjukkan bahwa untuk jangka waktu tertentu penurunan tiga persen dalam
inflasi disertai dengan peningkatan dua persen dalam pengangguran, orang tidak
dapat menggunakan korelasi ini untuk memprediksi pengaruh masa depan. tiga
persen penurunan poin dalam inflasi, karena ekspektasi orang tidak akan sama
dengan mereka dalam periode waktu di mana hubungan ini diperkirakan.
Salah satu implikasi penting dari
karya Lucas adalah pemerintah yang kredibel yaitu, pemerintah yang membuat dirinya
dimengerti dan dipercayai serta dapat dengan cepat mengakhiri inflasi besar
tanpa peningkatan besar dalam pengangguran.
·
Thomas J.Sargent dan Neil Wallace
Thomas Sargent adalah scholar
yang melanjutkan pemikiran dari John Muth dan Robert Lucas dalam mendalami
Teori Rational Expectations, di mana menurut Thomas Sargent ekonom yang percaya
pada ekspektasi rasional mendasarkan kepercayaan mereka pada asumsi ekonomi
standar bahwa orang berperilaku dengan cara yang memaksimalkan utilitas mereka
(kenikmatan hidup mereka) atau keuntungan.
Teori yang di sampaikan oleh
T.Sargent menciptakan teori – teori baru yang membuat teori Rational
Expectations menjadi lebih mudah di pahami dan di praktekkan, teori – teori
tersebut seperti teori random walk atau efficient markets, teori securities
prices, teori dynamics of hyperinflations, teori permanent income, teori siklus
hidup konsumsi, dan teori design of economic stabilization policies.
Neil Wallace memiliki pemikiran
yang hampir sama di mana keduanya bekerja sama dalam pembuatan buku yang
berjudul “Rational Expectations, the Optimal Monetary Instrument, and the
Optimal Money Supply Rule” di mana buku ini menjelaskan tentang bagaimana cara
mengimplikasikan Rational Expectation Theory kepada keadaan ekonomi yang ada
saat itu.
Kritik Terhadap teori
– teori sebelumnya
Rational Expectation adalah hasil
dari bentuk kritik dan pengembangan dari teori keynesian, Ekonom Keynesian
pernah percaya bahwa pemotongan pajak meningkatkan pendapatan yang dapat
dibuang dan dengan demikian menyebabkan orang untuk mengkonsumsi lebih banyak.
Tetapi menurut model pendapatan permanen yang merupakan salah satu bentuk
penelitian dalam Rational Expectations Theory, pemotongan pajak sementara
memiliki dampak yang jauh lebih kecil terhadap konsumsi daripada yang
dipikirkan orang Keynes. Alasannya adalah bahwa orang-orang mendasarkan keputusan
konsumsi mereka pada kekayaan mereka, bukan pendapatan mereka saat ini. Karena
pemotongan pajak sementara terikat untuk dibalik, mereka memiliki sedikit atau
tidak ada efek pada kekayaan, dan karena itu memiliki sedikit atau tidak
berpengaruh pada konsumsi. Dengan demikian, model pendapatan permanen memiliki
efek mengurangi “pengganda” pengeluaran yang dianggap oleh para ekonom sebagai
potongan pajak sementara.
Ekspektasi rasional telah menjadi
asumsi yang berfungsi dalam penelitian terbaru yang mencoba menjelaskan
bagaimana otoritas moneter dan fiskal dapat mempertahankan (atau kehilangan)
"reputasi baik" untuk pelaksanaan kebijakan mereka. Literatur ini
telah membantu para ekonom memahami banyaknya strategi kebijakan pemerintah
yang diikuti, misalnya, di negara-negara dengan inflasi tinggi dan inflasi
rendah.
Pro Kontra
Robert Lucas dalam bukunya yang
berjudul Some International Evidence on Output Inflation Trade – Offs pada
tahun 1973 Lucas menyatakan bahwa Aliran Moneter beserta kebijakannya adalah
tidak efektif baik jangka panjang maupun jangka pendek di mana alasannya yaitu
karena Lucas menyimpulkan bahwa perubahan-perubahan yang tidak terantisipasi
saja yang akan mempengaruhi output, karena jika perubahan tersebut dapat di
antisipasi dengan baik oleh pelaku – pelaku ekonomi, maka dampaknya terhadap
output Riil menjadi tidak ada dan hanya akan menyebabkan inflasi saja.
Namun secara kontra
terhadap teori Lucas, Fredric Mishkin dan Robert Gordon meragukan preposisi
Lucas bahwa kebijaksanaan moneter secara sistematis tidak memberi dampak
terhadap output, dan ditambahkan oleh Robert King dan Charles Plosser
menyatakan bahwa ada hubungan antara jumlah stok uang dengan output, tetapi
tidak ada jaminan bahwa jumlah uang yang mempengaruhi output tersebut dan
sebaliknya.